Masa Jeda Wahyu dan Besarnya Kerinduan Rasulullah SAW Padanya
Hikmah Tuhan menetapkan terjadinya jedanya wahyu (berhentinya wahyu untuk sementara waktu) setelah turunnya ayat-ayat sebelumnya (QS Al-Alaq [96] : 1-5), maka kerinduan Rasulullah saw. akan turunnya wahyu sangatlah besar, dan beliau pun merasakan kesedihan yang sangat mendalam, bahkan beliau pernah berniat melemparkan dirinya dari puncak gunung berkali-kali. Akan tetapi, setiap kali Rasulullah saw. hendak melakukan itu, Jibril a.s. muncul di hadapannya dan mencegah beliau melakukan keinginannya itu. Jibril a.s. memberikan kabar gembira kepada beliau bahwasanya beliau adalah Rasul Allah yang diutus kepada seluruh hamba-Nya.
Dalam masa berhentinya wahyu dan hikmahnya ini, para ulama berselisih pendapat tentang lamanya jeda wahyu. Pendapat yang terkenal bahwasanya masa berhentinya wahyu ini adalah tiga tahun, atau dua setengah tahun. Akan tetapi, para ahli tahkik (peneliti) mengatakan bahwa masa berhentinya wahyu ini tidak lebih dari empat puluh hari, bahkan diriwayatkan dari Ibn Abbas bahwasanya dia mengatakan bahwa masa berhentinya wahyu adalah
Adapun hikmah di balik jedanya waktu dan kesedihan Rasulullah saw. yang amat mendalam, maka sesungguhnya beliau telah mendapatkan beban wahyu dan efek yang berat dari turunnya wahyu itu, yang ia benar-benar telah mengguncang emosi beliau. Oleh karena itu, Allah swt. merasa iba kepada beliau, maka Dia pun menghentikan turunnya wahyu kepada beliau dalam masa itu agar beliau dapat beristirahat sejenak dan menyiapkan jiwanya untuk memikul beban berat yang bakal diterimanya.
Akan tetapi, setelah Rasulullah saw. melihat cahaya yang bersinar terang dan mendapatkan pengetahuan dari Tuhannya serta telah merasakan manisnya makrifat, maka meliau lupa akan semua kesusahan itu, sebaliknya kerinduan dan kesedihannya menjadi besar. Sebab, beliau mendapatkan pada dirinya besarnya kebutuhan pada petunjuk secara terus-menerus dan pertolongan Tuhannya selamanya.
Beliau memandang bahwa dalam masa berhentinya wahyu itu adalah kelambatan dari sesuatu yang beliau amat senang untuk segera sampai padanya, dan beliau tidak puas kecuali mendapatkan apa yang telah dijanjikan kepadanya. Ini adalah keadaan yang sangat berat yang menimpa jiwa orang-orang yang terkemuka yang memiliki keikhlasan yang tinggi. Yaitu, mereka yang berupaya dengan sungguh-sungguh agar umatnya mendapatkan keselamatan, berjuang sekuat tenaga untuk menyelamatkan orang-orang yang telah berada di ambang kebinasaan, dan memberikan petunjuk kepada orang-orang yang telah tersesat.
Oleh karena itu, hari Rasulullah saw. menjadi tenteram dan jiwanya menjadi tenang dengan turunnya Surah Al-Fatihah secara lengkap yang mengandung keseluruhan ayat yang akan diturunkan kepada beliau berturut-turut. Kemudian turun Surah Adh-Dhuha yang didalamnya mengandung berita gembira setelah diawali dengan sumpah bahwasanya Allah tiada akan meninggalkan beliau dan tiada pula benci kepada beliau, dan bahwasanya Dia akan memberikan karunia-Nya kepada beliau, yaitu wahyu dan yang lainnya yang menjadikan hati beliau puas. Kemudian diikuti dengan turunnya ayat-ayat Al-Quran secara berangsur sesuai dengan keadaan. Demikianlah ayat-ayat Al-Quran diturunkan kepada Rasulullah saw. secara bertahap selama sekitar dua puluh tiga tahun. Semoga Allah mencurahkan sebaik-baik shalawat dan salam kepada beliau, keluarga beliau, dan para sahabat beliau.[]