7 Mei 2009

Bagian 6

Permulaan Turunnya Wahyu

Ketika Sayyidina Muhamma saw. telah mencapai usia empat puluh tahun, pada saat beliau berada dalam uzlahnya, turun kepada beliau Al-Amin Jibril a.s. dengan membawa firman Tuhan Yang Maha Agung

bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah, yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam, Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.

Jibril a.s. turun dengan membawa ayat-ayat pada 17 Ramadhan menurut riwayat yang paling masyhur. Ketika Rasulullah saw. telah menghafal apa yang dibacakan oleh Jibril a.s. itu, beliau turun dari gunung itu dan mengabarkan kepada Khadijah apa yang telah terjadi padanya.

Beliau berkata kepada Khadijah, “Wahai Khadijah, apa yang terjadi padaku? Sungguh, aku sangat mengkhawatirkan diriku.”

Yakni, “Wahai Khadijah, apakah yang sedang terjadi padaku ini, yaitu beratnya wahyu ini dan betapa besar bebannya? Aku sungguh khawatir bahwasanya kekuatanku akan melemah dalam memikulnya.”

Khadijah Ath-Thahirah menjawab dengan perkataannya, “sekali-kali tidak, wahai anak pamanku. Bergembiralah. Demi Allah, Allah sekali-kali tidak akan pernah menghinakanmu. Sesungguhnya engkau benar-benar seorang yang menyambung tali kekerabatan. Berkata yang benar, menyampaikan amanat, menopang keluarga, menjamu tamu, dan menolong orang yang mendapatkan musibah.”

Ini menunjukkan kesempurnaan akal Khadijah dan kejernihan pikirannya. Yakni, bahwasanya Allah swt. tidak akan memperlakukan kepada orang-orang yang baik kecuali dengan apa yang di dalamnya mengandung kebahagiaan dan kebaikan. Maka, barang siapa yang berkarakter dengan sifat-sifat kesempurnaan, niscaya dia akan mendapat pertolongan untuk memikul beban yang berat dan Tuhannya tidak akan menyerahkan urusannya kepada dirinya sendiri dalam keadaan apa pun (tetapi Allahlah yang akan menanggung urusannya).

Posisi Khadijah a.s. dalam keteguhan bersama Rasulullah saw. dan bantuannya kepada beliau tidak dapat dihitung. Bagaimana tidak demikian? Dialah orang pertama yang beriman kepada beliau dan yang paling dahulu membenarkan dan menaatinya.

Kemudian untuk memenuhi perminataan Khadijah, Rasulullah saw. pergi bersamanya menemui Waraqah bin Naufal, dia adalah seorang yang memiliki pengetahuan tentang agama-agama. Lalu beliau menceritakan peristiwa yang dialaminya itu kepada Waraqah. Maka, Waraqah berkata, “Dia adalah An-Namus Al Akbar (Malaikat Jibril a.s.) yang turun kepada nabi-nabi.” Kemudian Waraqah mengabarkan kepada Nabi saw. apa yang akan didapatkan beliau dari kaumnya, yakni perlakuan yang kasar dan gangguan sehingga memaksa beliau untuk meninggalkan negerinya,.

Lalu beliau saw. bertanya kepadanya, “Apakah mereka akan mengusirku?”

Waraqah menjawab, “Ya,…”[2]

Dan itulah keadaan para nabi. Semoga Allah mencurahkan sebaik-baik shalawat dan salam kepada beliau dan mereka (para nabi), keluarga mereka, dan para sahabat mereka.[]


[1] QS Al-Alaq (96) : 1-5

[2] HR Al-Bukhari dalam Shaih-nya, 1.4, 6/215, 9/38, Ahmad dalam Al-Musnad, 6/233, Al-Baihaqidalam As-Sunan Al-Kubra, 7/51, 9/6, Ibn Hajar dalam Fath Al-Bari, 1/22, 8/715, 12/352, As-Suyuthi dalam Ad-Durru Al-Mantsur, 6/368, Abu Awanah dalam Al-Musnad, 1/11, Ibn Katsir dalam Tafsir-nya, 8/458, dan Ath-Thabari dalam Tafsir-nya, 30/162.