27 Mei 2009

Bagian 8

Kuatnya Kemauan Rasulullah SAW dan Ringkasan Dakwah Beliau

Rasulullah saw. bangkit melaksanakan dakwahnya seorang diri, tiada daya dan upaya kecuali apa yang beliau dapatkan di dalam dirinya spirit al-inayah al-ilahiyah (pertolongan Tuhan) dan cahaya bantuan Rabbaniyyah. Beliau menyerukan tauhid kepada seluruh manusia dan keimanan Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Mulia. Pada saat itu, keadaan manusia pada umumnya antara yang menyembah berhala, ateis, dan zindik.

Rasulullah saw. menyerukan kepada orang-orang yang menyembah berhala agar meninggalkan apa (baca: berhala) yang tidak dapat melakukan apa pun di dalam alam semesta ini dan mengembalikan segala sesuatu kepada kekuasaan Tuhan Yang Maha Penyayang. Beliau juga mengajak kepada sekitar tujuh puluhan orang agar membentangkan sayap mereka sampai di balik hijab, maka bersinarlah rahasia yang bangkit dengannya segala sebab, yang memanggil golongan yang terpandang di kalangan masyarakat ramai agar tutun ke barisan umum. Maka, seluruh manusia adalah hamba Tuhan Pencipta langit dan bumi.

Kemudian beliau menyerukan dakwahnya kepada para pembaca kitab-kitab samawi, lali beliau mencela mereka yang telah memalsukan dan memutarbalikkan kitab-kitab samawi itu. Demikian pula dakwah beliau ini ditujukan kepada orang-orang yang mempelajari kandungan kitab-kitab samawi, lalu beliau mengajak semuanya untuk memahami isinya dan menelaah rahasia ilmunya.

Rasulullah saw. mengarahkan pandangan setiap orang pada bakat yang telah diberikan Allah kepadanya, dan apa yang dikhususkan kepadanya berupa akal, pikiran, dan kebebasan dalam menentukan kehendak. Beliau memerintahkan kepada semua orang untuk melakukan pemikiran dan pembahasan dalam batasan keduanya yang dibenarkan oleh syariat dan tidak cenderung menyimpang. Sehingga, mereka dapat sampai pada apa yang diwajibkan kepada mereka, yaitu mengenal Tuhan mereka dengan dalil-dalil yang meyakinkan dan pasti.

Kemudian beliau menyerukan kepada manusia seluruhnya untuk mempersiapkan diri menghadapi Hari Kebangkitan, dan beliau menerangkan kepada mereka bahwa sebaik-baik bekal yang dibawa oleh seorang hamba, adalah keikhlasan kepada Allah Ta’ala dalam beribadah dan berbuat keadilan kepada manusia dan memberi petunjuk kepada mereka.

Beliau melaksanakan tugas kenabian di antara orang-orang yang tertutupi (hatinya) dengan tipuan keagungan (ketinggian hati), yang sedikit pun tidak mau mengindahkan dakwah beliau dan menolak membuka pendengarannya pada petunjuk beliau. Maka beliau menyampaikan hujah kepada mereka dan menarik mereka dengan penyampaian kabar gembira dan bujukan (bagi yang mau menerima dakwah beliau), dan beliau menakut-nakuti mereka dengan peringatan dan ancaman (bagi yang menolak seruan beliau).

Rasulullah saw. bagi umatnya seperti ayah yang penuh kasih sayang dan bijak dalam pendidikannya, amat belas kasihan dalam ketegasannya, dan penyayang dalam pemerintahannya. Semoga Allah mencurahkan sebaik-baik shalawat dan salam kepada beliau, keluarga beliau, dan para sahabat beliau.[]

18 Mei 2009

Bagian 7

Masa Jeda Wahyu dan Besarnya Kerinduan Rasulullah SAW Padanya

Hikmah Tuhan menetapkan terjadinya jedanya wahyu (berhentinya wahyu untuk sementara waktu) setelah turunnya ayat-ayat sebelumnya (QS Al-Alaq [96] : 1-5), maka kerinduan Rasulullah saw. akan turunnya wahyu sangatlah besar, dan beliau pun merasakan kesedihan yang sangat mendalam, bahkan beliau pernah berniat melemparkan dirinya dari puncak gunung berkali-kali. Akan tetapi, setiap kali Rasulullah saw. hendak melakukan itu, Jibril a.s. muncul di hadapannya dan mencegah beliau melakukan keinginannya itu. Jibril a.s. memberikan kabar gembira kepada beliau bahwasanya beliau adalah Rasul Allah yang diutus kepada seluruh hamba-Nya.

Dalam masa berhentinya wahyu dan hikmahnya ini, para ulama berselisih pendapat tentang lamanya jeda wahyu. Pendapat yang terkenal bahwasanya masa berhentinya wahyu ini adalah tiga tahun, atau dua setengah tahun. Akan tetapi, para ahli tahkik (peneliti) mengatakan bahwa masa berhentinya wahyu ini tidak lebih dari empat puluh hari, bahkan diriwayatkan dari Ibn Abbas bahwasanya dia mengatakan bahwa masa berhentinya wahyu adalah lima belas hari.

Adapun hikmah di balik jedanya waktu dan kesedihan Rasulullah saw. yang amat mendalam, maka sesungguhnya beliau telah mendapatkan beban wahyu dan efek yang berat dari turunnya wahyu itu, yang ia benar-benar telah mengguncang emosi beliau. Oleh karena itu, Allah swt. merasa iba kepada beliau, maka Dia pun menghentikan turunnya wahyu kepada beliau dalam masa itu agar beliau dapat beristirahat sejenak dan menyiapkan jiwanya untuk memikul beban berat yang bakal diterimanya.

Akan tetapi, setelah Rasulullah saw. melihat cahaya yang bersinar terang dan mendapatkan pengetahuan dari Tuhannya serta telah merasakan manisnya makrifat, maka meliau lupa akan semua kesusahan itu, sebaliknya kerinduan dan kesedihannya menjadi besar. Sebab, beliau mendapatkan pada dirinya besarnya kebutuhan pada petunjuk secara terus-menerus dan pertolongan Tuhannya selamanya.

Beliau memandang bahwa dalam masa berhentinya wahyu itu adalah kelambatan dari sesuatu yang beliau amat senang untuk segera sampai padanya, dan beliau tidak puas kecuali mendapatkan apa yang telah dijanjikan kepadanya. Ini adalah keadaan yang sangat berat  yang menimpa jiwa orang-orang yang terkemuka yang memiliki keikhlasan yang tinggi. Yaitu, mereka yang berupaya dengan sungguh-sungguh agar umatnya mendapatkan keselamatan, berjuang sekuat tenaga untuk menyelamatkan orang-orang yang telah berada di ambang kebinasaan, dan memberikan petunjuk kepada orang-orang yang telah tersesat.

Oleh karena itu, hari Rasulullah saw. menjadi tenteram dan jiwanya menjadi tenang dengan turunnya Surah Al-Fatihah secara lengkap yang mengandung keseluruhan ayat yang akan diturunkan kepada beliau berturut-turut. Kemudian turun Surah Adh-Dhuha yang didalamnya mengandung berita gembira setelah diawali dengan sumpah bahwasanya Allah tiada akan meninggalkan beliau dan tiada pula benci kepada beliau, dan bahwasanya Dia akan memberikan karunia-Nya kepada beliau, yaitu wahyu dan yang lainnya yang menjadikan hati beliau puas. Kemudian diikuti dengan turunnya ayat-ayat Al-Quran secara berangsur sesuai dengan keadaan. Demikianlah ayat-ayat Al-Quran diturunkan kepada Rasulullah saw. secara bertahap selama sekitar dua puluh tiga tahun. Semoga Allah mencurahkan sebaik-baik shalawat dan salam kepada beliau, keluarga beliau, dan para sahabat beliau.[]

7 Mei 2009

Bagian 6

Permulaan Turunnya Wahyu

Ketika Sayyidina Muhamma saw. telah mencapai usia empat puluh tahun, pada saat beliau berada dalam uzlahnya, turun kepada beliau Al-Amin Jibril a.s. dengan membawa firman Tuhan Yang Maha Agung

bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah, yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam, Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.

Jibril a.s. turun dengan membawa ayat-ayat pada 17 Ramadhan menurut riwayat yang paling masyhur. Ketika Rasulullah saw. telah menghafal apa yang dibacakan oleh Jibril a.s. itu, beliau turun dari gunung itu dan mengabarkan kepada Khadijah apa yang telah terjadi padanya.

Beliau berkata kepada Khadijah, “Wahai Khadijah, apa yang terjadi padaku? Sungguh, aku sangat mengkhawatirkan diriku.”

Yakni, “Wahai Khadijah, apakah yang sedang terjadi padaku ini, yaitu beratnya wahyu ini dan betapa besar bebannya? Aku sungguh khawatir bahwasanya kekuatanku akan melemah dalam memikulnya.”

Khadijah Ath-Thahirah menjawab dengan perkataannya, “sekali-kali tidak, wahai anak pamanku. Bergembiralah. Demi Allah, Allah sekali-kali tidak akan pernah menghinakanmu. Sesungguhnya engkau benar-benar seorang yang menyambung tali kekerabatan. Berkata yang benar, menyampaikan amanat, menopang keluarga, menjamu tamu, dan menolong orang yang mendapatkan musibah.”

Ini menunjukkan kesempurnaan akal Khadijah dan kejernihan pikirannya. Yakni, bahwasanya Allah swt. tidak akan memperlakukan kepada orang-orang yang baik kecuali dengan apa yang di dalamnya mengandung kebahagiaan dan kebaikan. Maka, barang siapa yang berkarakter dengan sifat-sifat kesempurnaan, niscaya dia akan mendapat pertolongan untuk memikul beban yang berat dan Tuhannya tidak akan menyerahkan urusannya kepada dirinya sendiri dalam keadaan apa pun (tetapi Allahlah yang akan menanggung urusannya).

Posisi Khadijah a.s. dalam keteguhan bersama Rasulullah saw. dan bantuannya kepada beliau tidak dapat dihitung. Bagaimana tidak demikian? Dialah orang pertama yang beriman kepada beliau dan yang paling dahulu membenarkan dan menaatinya.

Kemudian untuk memenuhi perminataan Khadijah, Rasulullah saw. pergi bersamanya menemui Waraqah bin Naufal, dia adalah seorang yang memiliki pengetahuan tentang agama-agama. Lalu beliau menceritakan peristiwa yang dialaminya itu kepada Waraqah. Maka, Waraqah berkata, “Dia adalah An-Namus Al Akbar (Malaikat Jibril a.s.) yang turun kepada nabi-nabi.” Kemudian Waraqah mengabarkan kepada Nabi saw. apa yang akan didapatkan beliau dari kaumnya, yakni perlakuan yang kasar dan gangguan sehingga memaksa beliau untuk meninggalkan negerinya,.

Lalu beliau saw. bertanya kepadanya, “Apakah mereka akan mengusirku?”

Waraqah menjawab, “Ya,…”[2]

Dan itulah keadaan para nabi. Semoga Allah mencurahkan sebaik-baik shalawat dan salam kepada beliau dan mereka (para nabi), keluarga mereka, dan para sahabat mereka.[]


[1] QS Al-Alaq (96) : 1-5

[2] HR Al-Bukhari dalam Shaih-nya, 1.4, 6/215, 9/38, Ahmad dalam Al-Musnad, 6/233, Al-Baihaqidalam As-Sunan Al-Kubra, 7/51, 9/6, Ibn Hajar dalam Fath Al-Bari, 1/22, 8/715, 12/352, As-Suyuthi dalam Ad-Durru Al-Mantsur, 6/368, Abu Awanah dalam Al-Musnad, 1/11, Ibn Katsir dalam Tafsir-nya, 8/458, dan Ath-Thabari dalam Tafsir-nya, 30/162.