Penyusuan Nabi saw. dan Pengasuhan Beliau
Aminah menyusui anaknya (Sayyidina Muhammad saw.) selama beberapa hari, kemudian beliau disusui oleh Tsuwaibah Al-Aslamiyyah. Kemudian mengikuti kebiasaan para pendahulunya yang memiliki nasab yang luhur, Aminah menyerahkan pengasuhan anaknya kepada orang lain, maka kemuliaan ini jatuh kepada yang berbahagia Halimah As-Sa’diyyah. Maka, beliau pun tinggal bersama Halimah As-Sa’diyyah selama empat tahun. Kemudian beliau kembali diserahkan kepada ibunya, Aminah. Maka, Aminah mengasuk anaknya ini dengan sebaik-baik pengasuhan hingga kematian menjemputnya, sedangkan beliau saat itu baru berumur enam tahun.
Ketia itulah beliau diasuh oleh budak perempuannya, Ummu Aiman Al-Habasyiyah. Kakenya, ‘Abdul Mththalib, memeluknya erat-erat. Dia sangat menyayangi cucunya ini dan menaruh belas kasihan kepadanya. Bahkan, ‘Abdul Muththalib biasa mengikutsertakannya di dalam majelis-majelisnya bersamanya dan beliau duduk di atas bantal yang disiapkan baginya, ‘Abdul Mththalib merasa senang akan hal itu, dan dia mengatakan kepada para pembesar kaumnya, “Sesungguhnya anakku ini kelak akan memiliki kedudukan yang agung.”
Ktika ‘Abdul Muththalib sakit keras mendekati kematiannya, dia mewasiatkan kepada Abu Thalib, saudara kandung ayah beliau, untuk mengasuh cucunya ini (Nabi saw.). Abu Thalib adalah seorang yang gagah perkasa dan dermawan. Dia sangat penuh perhatian dalam pengasuhan Sayyidina Muhammad ketika beliau masih kecil dan sangat besar kecintaannya kepada beliau ketika beliau telah beranjak dewasa. Kemudian dia melindungi beliau dengan sebaik-baiknya ketika Allah Ta’ala memuliakannya dengan mengutusnya.
Meskipun Abu Thalib memiliki kedudukan yang tinggi di kalangan Quraisy, tetapi kehidupannya sangat susah. Beliau saw. tumbung bersama anak-anak pamannya dalam kekerasan hidup (sebagiamana keadaan setiap tokoh besar) di antara teman-teman sebayanya dalam lingkungan jahiliyah dan teman-temannya yang buta huruf yang menyembah berhala. Walaupun semua itu, jiwanya yang mulia sedikit pun tidak tertarik pada kebiasaan mereka itu (penyembah berhala) dan akalnya sama sekali tidak terpengaruh dengan apa yang didengar atau dilihatnya.
Beliau saw. sempurna dalam fisik, akhlak, dan pikirannya. Tidak pernah terjadi dalam kebiasaan bahwasanya jiwa seorang yang yatim memiliki sifat sepertinya, apalagi dalam keadaan yang fakir, ditambah tidak adanya kaum cerdik pandai dan sarana-sarana pendidikan yang menunjang, tidak ada seorang guru yang memberikan bimbingan, tidak ada buku yang mengingatkannya, tidak ada sekolah yang dituju, dan tidak ada pula seorang teman yang membantunya dalam kebaikan.
Semua itu terjadi karena adanya pertolongan Allah yang menjaganya dan kekuasaan Tuhan yang menembus dinding semua perilaku kebiasaan itu sejak beliau masih kanak-kanak. Maka, Rasulullah saw. tumbuh dan dewasa secara sempurna, sedangkan kaumnya hidup dalam kerendahan. Beliau mengimani keesaan Allah di tengah-tengah kaumnya yang menyembah berhala. Beliau benar keyakinannya dan memiliki kecenderungan untuk melakukan kebaikan di tengah-tengah umat yang hidup dalam kejahiliahan dan berpaling dari jalan petunjuk.[]