13 Apr 2009

Biografi Penulis

Dia adalah Al-Alim Al-Jalil (yang terhormat) Ar-Rahhalah (yang banyak bepergian) Al-Falaki (astronom) As-Sayyid Abdullah bin Shadaqah bin Zaini Dahlan Al-Hasani Al-Hasyimi – rahimahumullahu Ta’ala – seorang iamam dan pengajar di Masjid Al-Haram Makkah Al-Mukarramah.

Abdullah dilahirkan di kota Makkah Al-Mukarramah pada tahun 1291 H dalam sebuah rumah (keluarga) yang paling mulia di Hijaz, baik dalam keilmuan maupun keutamaan, nasab kedua orang tuanya bersambung kepada Rasulullah saw.

Keluarga Dahlan adalah keluarga yang berasal dari keturunan yang mulia, rumahnya dikenal dengan pusat keilmuan, agama, dan makrifat. Sejarah telah mencatat kemuliaan keluarga Dahlan ini, yaitu akhlak yang luhur, ketawadhuan, kemurahan hati, kasih sayang, jihad, perjuangan, keikhlasan, dan kelapangan dada dalam pergaulan (muamalat). Keluarga Dahlan ini juga dicintai oleh masyarakat luas dan memiliki reputasi yang baik.

Banyak sekali para ulama dan sejarawan yang telah bercerita tentang mereka (keluarga Dahlan) dan menerangkan keutamaan mereka dan kebaikan mereka dalam berkhidmat kepada agama, ilmu, dan ulama. Mereka adalah para sayyid yang agung, banyak sekali di antara mereka yang terkenal, yang paling utamanya di antara mereka adalah mufti mazhab Asy-Syafi’I dan pemuka ulama Hijaz pada masanya yang banyak sekali orang yang mengambil manfaat dengan ilmunya, dia adalah penulis Khulaashah Al-Kalaam, As-Sayyid Al-Jaliil Al-Marhuum Ahmad bin Zainii Dahlaan Al-Hasanii Al-Haasyimii Al-Qudrasyii Al-Makkii—rahimahullaahu Ta’aala.

Tempat kelahiran dan pertumbuhan Abdullaah adalah di Makkah Al-Mukarramah pada masa seorang penguasa yang adil, yaitu Asy-Syariif Abdullaah bin Muhammad bin Aun—Aun—rahimahullaah—dan kakeknya, As-Sayyid Zaini Dahlaan, telah terjadi hubungan dan kecintaan yang kuat, yang hal itu menjadikan Asy-Syariif Muhammad bin Aun ini memerintahkan putra-putranya untuk belajar kepada paman pengarang buku ini, yaitu Maulana Al-Allamah Asy-Syahir As-Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan—rahimahullah—Mufti Hijaz dan sejarawan serta pemuka ulama Hijaz saat itu, yang banyak sekali orang yang mengambil manfaat dengan ilmunya.

Pengarang buku ini telah terdidik di bawah asuhan pamannya tersebut karena ayahnya telah meninggal ketika dia baru berusia enam tahun. Dia tidak pernah berpisah dengan pamannya, Al-Allamah As-Sayyid Ahmad bin Zaini, sehingga pamannya sendiri berpulang ke rahmat Tuhannya pada tahun 1304 H di Al-Madinah Al-Munawarah.

Pamannya ini telah menjaganya dengan penuh perhatian dan mendidiknya dengan pandidikan Islam yang murni serta menyirami jiwanya dengan bimbingan, nasihat, dan berpegang erat pada agama yang lurus dan Sunnah penghulu para rasul saw. Hal itu melalui bimbingan para ulama yang trepercaya pada masanya, dan yang terdepan di antara mereka adalah pamannya dari pihak ibunya, yaitu As-Sayyid Abu Bakar Syatha—rahimahullah—dan Al Allamah Al-Arif billah As Sayyid Hasan bin Muhammad Al-Habsyi.

Akan tetapi, Sayyid Abdullah—rahimahullah—tidak merasa cukup dengan hal itu, disebabkan oleh ambisi ilmiahnya dia mulai menceburkan diri ke dalam ilmu falak di bawah bimbingan ustadnya Syaikh Muhammad Husain Khayyath, dan juga belajar dari karangan pamannya, As-Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan—rahimahullah—yang sangat banyak jumlahnya, di antaranya:

· --Matnu Asy-Syathibiyyah Al-Jami’ bikulli Al-Muram fi Al-Qira’at.

· --Matnu Al-Bahjah wa Abi Syuja’ wa Uqud Al-Juman.

· --Matnu Al-Alfiyyah.

· --Talkish Minhaj Al-Abidin li Al-Imam Al-Ghazali.

· --Bayan Al-Maqamat wa Kafiyyah As-Suluk

· --As-Sirah An-Nabawiyyah.

· --Al-Futuhat A-Islamiyyah ba’da Al-Futuhat An-Nabawiyyah

· --Al-Fathu Al-Mubin fi Sirah Al-Khulafa Ar-Rasyidin

· --Talkhish Usud Al-Ghabah

· --Talkhish Al-Ishabah fi Ma’rifati Ash-Shahabah

· --Tarikh Umara’ Badadillah Al-Haram

· --Irsyad Al-Ibad fi Fadha’il Al-Jihad li Al-Hadhir wa Al-Bad

· --Ad-Durar As-Saniyyah wa Ar-Raddu ‘ala Al-Isma’iliyyah

· --Fathu Al-Jawad Al-Maniyyah bi Syarhi Fiadh Ar-Rahman

· --Minhaj Al-Athsyan ‘ala Fathi Ar-Rahman

· --Al-Ujrumiyyah fi An-Nahwi

· --Risalah fi Al-Basmalah

· --Risalah ‘an Fadha’il Al-Jumu’ah

· --Taisir Al-Ushul wa Tashil Al-Wushul fi At-Tasharruf.

Di samping karangan-karangan As-Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan—rahimahullah—lainnya yang banyak sekali jumlahnya yang tidak disebutkan di dalam buku ini.

Setelah Sayyid Abdullah Dahlan—rahimahullah—memperoleh ijazah pengajaran, dia ditunjuk sebagai imam di Masjid Al-Haram dan pengajar di halaqah (majelis) bab “As-Salam” di Masjid Al-Haram. Banyak sekali pemuda Makkah Al-Mukarramah yang belajar kepadanya, yang paling menonjol di antara mereka adalah As-Sayyid Shalih Syatha yang belajar kepadanya ilmu adab dan falak, dan Abdur Ra’uf Ash-Shabban.

Kecendiakawanan dan aktivitas keilmuan Sayyid Abdullah Dahlan—rahimahullah—yang terus-menerus itu telah menarik perhatian para penguasa. Mereka melihat tanda baik padanya, maka mereka pun mengangkatnya sebagai pengawas umum pada departemen-departemen pemerintahan, di samping sebagai imam di Maqam Ibrahim dan pengajar di Masjid Al-Haram. Sebagaimana pula dia ditunjuk sebagai kepala distrik Zubaidah yang administrasinya terbentuk pada masa Gubernur At-Turki Utsman Basya An-Nuri, dan dia menamainya “Kamisun Ain Zubaidah”, dan dia pula yang langsung mengontrol pembangunan distrik itu.

Karena sebab-sebab yang sama yang dilakukan oleh Syarif Husain bin ‘Ali dalam menyingkirkan kekuasaan pamannya, Syarif ‘Aun Ar-Rafiq, ke Istabun karena membantu Gubernur A-Turki dalam segala aktivitasnya, Syarif Husain bin ’Ali menyingkirkan pula Gubernur Makkah saat itu, Sayid Abdullah, dari administrasi Al-‘Ain karena membantu Gubernur At-Turki. Akan tetapi, meskipun semua itu, Sayyid Abdullah Dahlan adalah seorang yang pemberani yang memiliki ketetapan hati, teguh dalam pendiriannya, dan tegas, yang tidak gentar terhadap celaan orang yang mencela. Dia tidak segan-segan menyanggah perkataan para pejabat pemerintahan termasuk di antaranya Syarif Husain, apa yang dilihatnya sebagai kebenaran tanpa merasa takut di hadapan kekuasaan Syarif Husain. Seandainya saja Syarif Husain tidak memandang keutamaan gurunya, Ahmad bin Zaini Dahlan, niscaya perkaranya pasti akan menjadi lain.

Dalam setiap pertentangan ini, spiritnya yang tinggi dan jiwanya yang agung enggan untuk terhina di dalam rumahnya sendiri dan tinggal di tengah-tengah keluarganya, sebaliknya hal itu mendorongnya untuk pergi guna memberikan manfaat kepada kaum Muslim, sebagaimana yang dilakukan oleh nenek moyangnya yang agung. Maka, pada tahun 1316 H dia berangkat ke Zanjibar setelah melewati And dan bertemu dengan sultannya serta mendapatkan penghormatan dan pemuliaan. Kemudian dia kembali ke Makkah setelah tiga bulan.

Pada tahun 1318, Sayyid ‘Abdullah bertolak menuju negara-negara Asia Timur dan menetap di sana selama setahun lima bulan dan mempelajari keadaan-keadaan negeri-negeri tersebut. Kemudian dia kembali ke Makkah Al-Mukarramah dengan membawa berbagai harapan sekaligus kepedihan karena apa yang telah dilihatnya pada orang-orang Islam.

Sayyid ‘Abdullah mendirikan sekolah pertama di Hijaz dalam bentuk yang modern pada tahun 1323 H. Kemudian pada tahun 1327 H, dia kembali pergi ke negara-negara Asia timur untuk memenuhi permintaan dan desakan penduduk negeri-negeri tersebut, lalu dia mendirikan “Jam’iyyah Khair” dan sekolahnya, dan sekolah tersebut masih berdiri (berjalan) hingga sekarang.

Setelah diumumkannya berdirinya konstitusi di Turki dan penjatuhan kesultanan ‘Abdul Hamid pada tahun 1327 H, Sayyid ‘Abdullah—rahimahullah—kembali ke Makkah Al-Mukarramah.

Akan tetapi, di bawah tekanan-tekanan Syarif Husain bin ‘Ali, Sayyid ‘Abdullah meninggalkan Makkah Al-Mukarramah dan bertolak menuju Asia Timur, lalu di sana dia mendirikan beberapa perkumpulan sosial (jam’iyyah khairiyyah) dan sekolah-sekolah yang sebagiannya masih berdiri hingga sekarang.

Pada akhir tahun 1330 H, Sayyid ‘Abdullah kembali ke Makkah Al-Mukarramah untuk mengunjungi keluarganya dan tinggal di sana selama beberapa bulan guna menyerukan orang banyak pada ilmu pengetahuan dan reformasi, yang hal itu telah menimbulkan kegelisahan pada diri Syarif Husain. Maka, Syarif Husain menyingkirkannya ke Kalakh, ia adalah nama suatu desa terpencil yang dihuni oleh sebagian Kabilah ‘Utaibah di timur Thaif.

Di desan yang terpencil ini, Sayyid ‘Abdullah—rahimahullah—mengumpulkan para pemuda desa tersebut dan mulai mengajari mereka perkara-perkara agama mereka sebagai langkah pertama untuk mendirikan sekolah. Ketika Syarif Husain mengetahui aktivitas Sayyid ‘Abdullah ini, maka dia merasa khawatir akibat yang ditimbulkan dari pengajaran ini. Kemudian Syarif Husain memanggil Sayyid ‘Abdullah untuk menghadapnya di Thaif, lalu dia meminta kepada Sayyid ‘Abdullah agar meninggalkan negeri tersebut.

Pada akhir tahun 1330 H, Sayyid ‘Abdullah kembali ke Makkah Al-Mukarramah untuk mengunjungi keluarganya dan tinggal di sana selama beberapa bulan. Kemudian dia pergi ke Al-Madinah Al-Munawwarah untuk menziarahi Rasul yang mulia saw. Kemudian dia pergi ke Syam, lalu dia mengunjungi Mesir dan berjumpa dengan Rektor Al-Azhar Al-‘Allamah Al-Ustadz Asy-Syaikh Salim Al-Bisri. Di Al-Azhar ini, Sayyid ‘Abdullah memasukkan beberapa orang Islam dari Asia Timur yang tinggal di Mesir, hal itu terjadi pada tahun 1331. Kemudian dia pergi ke Kolombo (ibukota Sri Lanka) dan di sana dia meneruskan bepergiannya ke India dan Malawi, dan di sana dia pergi dari satu negeri ke negeri yang lain untuk berdakwah kepada agama Allah dan mendirikan beberapa sekolah agama.

Ketika Italian menyerang Tripoli barat, Sayyid ‘Abdullah mendirikan bebeapa panitia untuk mengumpulkan uang dan bantuan sehingga terkumpul banyak harta dan bantuan, lalu dia menyerahkannya kepada Gubernur ‘Umar Tharsun Basya,

Kemdudian dia ditunjuk sebagai Syaikhul Islam di malaysia, tetapi jiwanya yang agung tidak menyukai hal itu. Sebaliknya, dia lebih mengutamakan mendirikan sekolah-sekolah. Lalu dia pindah ke Pinang dan di sana dia mendirikan sebuah sekolah, kemudian dia pindah ke Mala dan di sana dia juga mendirikan sebuah sekolah.

Pada tahun 1336 H, dia pergi ke India lalu ke Irak. Dalam perjalanan pulangnya dia singgah di Bahrain, lalu di sana dia mendirikan sebuah sekolah. Dia mengumpulkan banyak uang sehingga mencapai dua ratus ribu dan dengan uang tersebut dia membangun sebuah bangunan (sekolah) yang besar, yang hingga sekarang bangunan itu masih berdiri dan banyak pemuda Arab yang lulus dari sekolah tersebut. Para ulama dan sejarawan Bahrain menganggap Sayyid ‘Abdullah sebagai perintis pendidikan umum di Bahrain.

Kemudian dia kembali ke negara-negara Asia Timur dan menetap di sana pada tahun 1346 H. Di sana dia memperbaiki sekolah-sekolah yang banyak bertebaran. Dia juga membantu mendirikan sekolah-sekolah yang lain, di antaranya: Madrasah Ali Junaid yang berada di Singapura, dan dia meletakkan sistem yang memadai pada sekolah itu. Dia juga mendirikan sekolah-sekolah yang lain di Jambi, Palembang, dan Lampung. Demikian pula dia membangun masjid dalam jumlah yang banyak di negeri-negeri tersebut.

Pada tahun yang sama, dia pergi ke Ethiopia dan berkunjung ke San’a, Yaman, dan berjumpa dengan Imam Yahya Hamiduddin yang menyambutnya dengan penghormatan dan pemuliaan. Demikianlah, dia selalu mendapat penghormatan yang besar dari para ulama dan orang-orang yang memiliki keutamaan di mana saja dia singgah.

Kemudian dia kembali ke Makkah Al-Mukarramah dan tinggal di sana selama tujuh bulan. Kemudian dia pergi ke Mesir dan memasukkan putranya di salah satu sekolahan di sana. Kemudian dia pergi ke Hijaz dan tinggal di Makkah selama beberapa bulan. Kemudian dia pergi mengunjungi Raja ‘Abdul ‘Aziz dan dia mendapat sambutan yang hangat dan penghormatan dari Raja ‘Abdul ‘Aziz.

Kemudian dia pergi ke Asia Timur dan tinggal di sana untuk mengarang (beberapa buku) dan penyebarannya. Dia aktif dalam pengajaran. Dia memberikan pelajaran-pelajaran di rumahnya, yang rumahnya ini sekaligus menjadi rumah tamu bagi siapa saja yang mengenalnya dan yang tidak mengenalnya. Dia senantiasa menyambut tamu-tamunya dengan senyuman dan keramahan.

Karya-Karyanya

Adapun karangan Sayyid ‘Abdullah sengatlah banyak, yang kebanyakannya dia susun untuk memenuhi keadaan dan apa yang diperlukan oleh orang-orang banyak di segenap negeri. Di antara buku-buku karangannya itu telah dicetak, yaitu:

1. Irsyad Dzi Al-Ahkamila Wajib Al-Qadhah wa Al-Hukkam.

2. –Zubdah As-Sirah An-Nabawiyyah (tiga jilid).

3. –Tuhfah Ath-Thullah fi Qawa’id Asy-Syiqaq.

4. –Khulashah At-Tiryaq min Samum Asy-Syiqaq.

5. –Miftah Al-Qira’ah wa Al-Kitabah wa Daliluh.

6. –Irsyad Al-Ghafil ila ma fi At-Thariqah At-Tijaniyyah min Al-Bathil.

7. –Fatwa fi Ibhtal Thariqah Wahdah Al-Wujud.

Di samping itu masih banyak lagi buku karangannya yang lain yang telah musnah oleh api peperangan kolonial di negara-negara Asia Timur.

Sayyid ‘Abdullah wafat pada tahun 1360 H di Asia Timur, sementara dia sedang berjuang dan menyerukan kepada jalan menegakkan kalimatullah.

Dia memiliki keturunan yang banyak, baik laki-laki maupun perempuan. Di Makkah Al-Mukarramah dia memiliki dau istri. Dari istri yang pertama itu, dia dikaruniai seorang anak permepuan dan seorang anak laki-laki yang bernama Ahmad ‘Abdullah Dahlan seorang pengajar ilmu falak di Madrasah Ash-Shulatiyyah. Sedangkan dari istrinya yang kedua, dia dikaruniai dua orang anak perempuan dan seorang anak laki-laki yang bernama Shadiq ‘Abdullah Dahlan yang bekerja untuk kerajaan Arab Saudi dari mulai tahun 1353 H dan meningkat menjadi pegawai dalam Majelis Syura sampai menjadi anggora Majelis Syura, kemudian dia diangkat menjadi wakil ketua Majelis Syura dengan perintah Khadimul Haramain Raja Fahd bin ‘Abdul ‘Aziz sehingga akhir tahun 1412 H.

Sayyid Shadiq adalah ayah Sayyid Dr. Rabi’ bin Shadiq Dahlan, dosen di bidang pengaturan administrasi, Direktur Umum Perhubungan Arab Saudi dari tahun 1978 M – 1989 M, dan Wakil Gubernur Makkah Al-Mukarramah dari tahun 1989 M – 1999 M. Dr. Rabi’ terkenal dengan pengabdiannya pada agamanya, tanah airnya, dan penduduknya.